Menu

Mode Gelap
Penyembelihan Tapir di Mesuji, Fauzi Heri Minta Kementerian Kehutanan Evaluasi PT Silva Inhutani Lampung Fauzi Heri Prihatin Masih Banyak Karyawan Mal Bekerja Berdiri 8 Jam Tanpa Tempat Duduk Fauzi Heri Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Dery Hendryan Menjadi Anggota Komisi Informasi Pusat 2026–2030 DPRD Lampung Gelar Paripurna LKPJ 2025, Pansus Soroti Kondisi Fiskal dan Kinerja Pemerintah Daerah Membaca Arah Pembangunan dan Tantangan Struktural IKU Provinsi Lampung Tahun 2025, Sebuah Catatan Kemacetan Parah Usai Ijtima Ulama di Kotabaru, Lampung, Aparat Kewalahan Atur Lalu Lintas

Politik Hukum dan Pemerintahan

Konflik Mesuji Disebabkan Kemitraan PT Prima Alumga Tak Sejahterakan Warga

badge-check


					Fauzi Heri, Anggota Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Lampung Perbesar

Fauzi Heri, Anggota Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Lampung

Lampung – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fauzi Heri, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Mesuji harus bersikap netral dalam menyelesaikan konflik antara warga Dusun Sungai Cambai dan PT Prima Alumga. Menurutnya, akar persoalan terletak pada pola kemitraan yang diterapkan perusahaan, yang ternyata tidak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Pemkab tidak boleh terkesan berpihak kepada perusahaan karena itu akan melukai hati rakyat. Bupati Mesuji harus berada di posisi tengah agar bisa mencari solusi yang adil dan berkelanjutan,” ujar Fauzi Heri di Bandar Lampung, Kamis (27/03/2025).

PT Prima Alumga sebelumnya telah menerapkan konsep kemitraan dengan masyarakat melalui koperasi di atas lahan seluas 2.000 hektare. Namun, warga mengaku hasil yang mereka terima sangat minim. Sejumlah petani bahkan mengeluhkan hanya mendapatkan sekitar Rp60 ribu setiap tiga bulan, angka yang jauh dari harapan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

“Kemitraan ini seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, tapi faktanya tidak demikian. Warga tetap hidup dalam kesulitan, sementara perusahaan terus beroperasi,” lanjut Fauzi.

Ia juga mengingatkan bahwa tindakan preemptive maupun represif yang melibatkan aparat keamanan justru bisa memperburuk situasi. “Pendekatan dialogis dan evaluasi terhadap pola kemitraan ini harus lebih diutamakan. Jika tidak ada perbaikan, konflik ini bisa berkepanjangan dan semakin sulit diselesaikan,” pungkasnya.***red

Article share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kadis Pendidikan Lampung Timur Diperiksa Polisi Terkait Ijazah Palsu, LCW Pertanyakan Kinerja KPU

1 Juli 2026 - 23:01 WIB

Tanggamus Siap Wujudkan Swasembada Beras 2025

1 Juli 2026 - 23:01 WIB

Fauzi Heri: Sinergi Tiga Kepala Daerah, Solusi Konkret Atasi Banjir dan Sampah di Bandar Lampung

1 Juli 2026 - 23:01 WIB

Masalah Kompleks, Pengelolaan Sampah di Lampung Tanpa Anggaran

1 Juli 2026 - 23:01 WIB

DPRD Lampung Terima 4 Raperda Baru, RPJMD 2025-2030 Dikebut!

1 Juli 2026 - 23:01 WIB

Trending di Politik Hukum dan Pemerintahan